Minggu, November 30, 2008

Rapat Kerja Pengurus PGSI DKI Jakarta


Pengurus PGSI WIlayah DKI Jakarta mengadakan Rapat Kerja (Raker) selama 2 hari di PPSDMS Nurul Fikri Depok. Dalam raker tersebut dibahas berbagai hal menyangkut manajemen organisasi dan rencana program yang akan dilaksanakan. Dalam sambutannya, Badru Zaman, S.Pd selaku Ketua PGSI Wilayah DKI Jakarta mengungkapkan tentang strategisnya PGSI untuk pengembangan sumberdaya guru di Wilayah DKI Jakarta. PGSI akan siap melakukan banyak hal untuk kepentingan guru, baik demi peningkatan kualitas guru tersebut maupun upaya keberpihakkan pemerintah terhadapnya.

"Kita akan membangun fikrah (pola pikir) yang maju di lingkungan guru, dan melakukan upaya-upaya demi peningkatan kualitas pendidikan bangsa ini" ungkap Badru yang kini tercatat sebagai salahsatu guru di SMU Labschool Jakarta.Diharapkan semua guru bukan hanya memiliki kemampuan mengajar (saja), tetapi memiliki ruhiyah yang mantap sehingga mampu menjadi contoh bagi siswa-siswanya. PGSI akan mengupayakan setiap guru yang menjadi anggota PGSI memiliki karakter pribadi yang syamil-mutakamil.

"Raker yang dilaksanakan pada 29 s.d 30 Nopember tersebut menjadi acuan program Pengurus PGSI Wilayah" Benny Arifin, SE, M.AB selaku Ketua Panitia Pelaksana raker menyebutkan dalam arahan raker yang dipimpinnya.

Senin, November 24, 2008

JSIT DKI Jakarta Gelar Pelatihan Mutu Sekolah


"Seharusnya Sekolah Islam terpadu memiliki kualitas yang sama di manapun, sehingga orangtua yang pindah tugas ke luar daerah dapat menyekolahkan kembali ke sekolah Islam terpadu di daerah setempat karena yakin akan terjaganya kualitas SIT" ungkap Syahroni, Ketua JSIT DKI Jakarta disela Pelatihan Mutu sekolah yang digelarnya, Kamis 20 November lalu.


Sebanyak 142 peserta yang terdiri dari Kepala Sekolah dan guru-guru Sekolah Islam terpadu di wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya mengikuti Pelatihan Mutu Sekolah yang diadakan oleh Jaringan Sekolah Islam Terpadu (JSIT) Wilayah DKI Jakarta bekerjasama dengan Kualita Pendidikan Indonesia (KPI) Surabaya. Pelatihan yang diselenggarakan di Universitas Jakarta (UNIJA) itu menghadirkan drh. Hamy Wahjunianto, MM dan Ir. Masruri sebagai fasilitatornya.
Dalam persentasinya, Hamy yang juga tercatat sebagai Ketua Pengurus Yayasan Kualita Pendidikan Indonesia itu mengupas masalah-masalah dalam mutu pendidikan. Salahsatunya adalah mutu guru. Ia menilai mutu guru di Indonesia jauh dari kualitas yang diharapkan.


"Bagaimana sekolah bisa bermutu, jika gurunya (juga) tidak bermutu" ungkapnya. Berdasarkan data, 60% lebih guru SD, 50% guru SMP dan 20% guru SMA masih underqualified (Dedi S, 2001). Lebih miris lagi Balitbang Depdiknas menyatakan bahwa 62% guru SD dan 29% guru SMP dianggap tidak layak mengajar. Di sisi lain ada 31,1% guru yang mengajar tidak sesuai dengan bidangnya. Hamy mengungkap fakta yang nyata, "Ketika anak kita masih balita, mereka sangat dekat dengan lingkungan sekitarnya dan mereka belajar banyak hal dari lingkungan terdekatnya. Tapi ketika mereka sekolah dan belajar IPA mengapa mereka menjadi terasing dengan lingkungan alam sekitarnya. Seolah tidak ada kaitan antara lingkungan di luar kelas dengan pelajaran IPA di dalam kelas. Apa yang terjadi di dalam ruang kelas kita? Guru atau anak-anak yang bermasalah?".


Melihat kenyataan di atas, mutu sekolah memang patut dipertanyakan. Diakui, guru memegang peranan penting dalam meningkatkan mutu sekolah disamping faktor-faktor lainnya. Hamy meminjam ungkapan Haim Ginott, "Saya telah mendapatkan sebuah kesimpulan yang menakutkan yaitu bahwa saya adalah komponen yang sangat menentukan di ruang kelas. Cara pendekatan saya dan suasana hati saya adalah gambaran iklim di kelas. Saya mempunyai kekutan luar biasa untuk membuat kehidupan seorang murid kacau balau atau bahagia. Saya bisa menjadi instrumen yang menyiksa atau memberi inspirasi pada murid. Menghina atau memberi dukungan, menyakiti atau menyembuhkan. Dalam segala situasi respon saya di kelas adalah hal yang menentukan apakah sebuah krisis dapat diperburuk atau diselesaikan, seorang murid dimanusiakan atau tidak dimanusiakan."


Intinya, seorang guru harus hebat. Untuk menjadi guru hebat, Hamy mengungkapkan ada 4 hal yang menjadi kuncinya: Satu, Penguasan guru terhadap bidang studi yang diajarkan, kedua, keterampilan guru dalam mengajar bidang studi, ketiga, keterampilan anak untuk belajar dengan efektif, dan keempat, motivasi anak untuk belajar dengan efektif.


Dalam kesempatan itu juga, Masruri yang kini menjabat Direktur KPI mengulai mutu sekolah lebih kepada Sistem dan manajemen yang dibangun oleh sekolah yang bersangkutan. Sistem dan manjemen sekolah seperti apa yang dikembangkan oleh sekolah. "Jika sistem dan manajemen baik, Insya Allah mutu sekolah tersebut baik." ungkap salahsatu inspirator sekolah AlHikmah Surabaya ini.

Senin, November 17, 2008

Selamat 'HARI GURU'

Selamat hari guru, guru-guruku….
Aku tidak akan seperti aku yang sekarang tanpa ajaran dan ilmu yang kau berikan padaku tanpa pamrih…
Terpujilah wahai engkau, Ibu bapak guru
Namamu akan selalu hidup dalam sanubariku
Semua baktimu akan kuukir di dalam hatiku
S’bagai prasasti t’rima kasihku
‘tuk pengabdianmu
Engkau sebagai pelita dalam kegelapan
Engkau laksana embun penyejuk dalam kehausan
Engkau patriot pahlawan bangsa tanpa tanda jasa

Semoga lagu yang didedikasikan dari penciptanya (Sartono) ini bisa menggambarkan betapa berjasanya dirimu bagi bangsa ini,,meskipun kesejahteraanmu tidak diperhatikan.
*Dengan mengangkat topi dan membungkukkan badan, terimalah ucapan tulus terima kasih dari murid-murid mu ini

-->

Guru di 'hari guru'

“Sejuta batu nisan
guru tua yang terlupakan oleh sejarah
Terbaca torehan darah kering:
Di sini berbaring seorang guru
semampu membaca buku usang
sambil belajar menahan lapar
Hidup sebulan dengan gaji sehari
Itulah nisan tua sejuta
guru tua yang terlupakan oleh sejarah,”

Puisi di atas mengingatkan kita akan perjuangan dan kepedihan guru, masih adakah guru yang pedih menjalani hidup yang pas-pasan? Bisa jadi masih ada....
November ini kita teringat dengan peringatan hari guru. Wikipedia mendefinisikan bahwa Hari Guru adalah hari untuk menunjukkan penghargaan terhadap guru, dan diperingati pada tanggal yang berbeda-beda bergantung pada negaranya. Di beberapa negara, hari guru merupakan hari libur sekolah.Hari Guru Nasional diperingati bersama hari ulang tahun PGRI (Persatuan Guru Republik Indonesia). Hari Guru Nasional bukan hari libur resmi, dan dirayakan dalam bentuk upacara peringatan di sekolah-sekolah dan pemberian tanda jasa bagi guru, kepala sekolah, dan pengawas sekolah.
Terkait dengan peringatan hari guru, mungkin kita bisa mengevaluasi secara komprehensive guru di Indonesia, secara kuantitatif dan kualitatif. Kini, terutama di DKI Jakarta, puisi pembuka di atas sudah tidak relevan lagi. Gaji guru ditambah tunjangannya membuat guru bisa bernyayi. Lihat saja beberapa bait yang ditulis oleh seorang guru berikut:

guru-guru kini sudah bisa belagu
menepis segala ambigu
tiada bisa menandingi aku
sebab gajianku berlipat beribu

guru sekarang sudah bisa terbang
semua keperluan dapat tunjangan
setiap bulan inklud di uang gajian
aku pun sudah bisa terbang
siapa yang menghina kami
ku injak kepala sampai kaki
bandingkan berapa situ bergaji
tahukah kami sudah bisa bernyanyi

taralala trilili………………..


Rupanya, kegembiraan guru akan meningkatnya kesejahteraan belum diimbangi meningkatnya kualitas. Lihat saja masih banyak guru yang mengajar hanya meminta murid mencatat dari papan tulis. Atau sekedar menghabiskan jam pelajaran dengan maksud yang penting belajar.
Wah...bahaya sekali kalau seperti ini. Bagaimana outputnya nanti??