"Seharusnya Sekolah Islam terpadu memiliki kualitas yang sama di manapun, sehingga orangtua yang pindah tugas ke luar daerah dapat menyekolahkan kembali ke sekolah Islam terpadu di daerah setempat karena yakin akan terjaganya kualitas SIT" ungkap Syahroni, Ketua JSIT DKI Jakarta disela Pelatihan Mutu sekolah yang digelarnya, Kamis 20 November lalu.
Sebanyak 142 peserta yang terdiri dari Kepala Sekolah dan guru-guru Sekolah Islam terpadu di wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya mengikuti Pelatihan Mutu Sekolah yang diadakan oleh Jaringan Sekolah Islam Terpadu (JSIT) Wilayah DKI Jakarta bekerjasama dengan Kualita Pendidikan Indonesia (KPI) Surabaya. Pelatihan yang diselenggarakan di Universitas Jakarta (UNIJA) itu menghadirkan drh. Hamy Wahjunianto, MM dan Ir. Masruri sebagai fasilitatornya.
Dalam persentasinya, Hamy yang juga tercatat sebagai Ketua Pengurus Yayasan Kualita Pendidikan Indonesia itu mengupas masalah-masalah dalam mutu pendidikan. Salahsatunya adalah mutu guru. Ia menilai mutu guru di Indonesia jauh dari kualitas yang diharapkan.
"Bagaimana sekolah bisa bermutu, jika gurunya (juga) tidak bermutu" ungkapnya. Berdasarkan data, 60% lebih guru SD, 50% guru SMP dan 20% guru SMA masih underqualified (Dedi S, 2001). Lebih miris lagi Balitbang Depdiknas menyatakan bahwa 62% guru SD dan 29% guru SMP dianggap tidak layak mengajar. Di sisi lain ada 31,1% guru yang mengajar tidak sesuai dengan bidangnya. Hamy mengungkap fakta yang nyata, "Ketika anak kita masih balita, mereka sangat dekat dengan lingkungan sekitarnya dan mereka belajar banyak hal dari lingkungan terdekatnya. Tapi ketika mereka sekolah dan belajar IPA mengapa mereka menjadi terasing dengan lingkungan alam sekitarnya. Seolah tidak ada kaitan antara lingkungan di luar kelas dengan pelajaran IPA di dalam kelas. Apa yang terjadi di dalam ruang kelas kita? Guru atau anak-anak yang bermasalah?".
Melihat kenyataan di atas, mutu sekolah memang patut dipertanyakan. Diakui, guru memegang peranan penting dalam meningkatkan mutu sekolah disamping faktor-faktor lainnya. Hamy meminjam ungkapan Haim Ginott, "Saya telah mendapatkan sebuah kesimpulan yang menakutkan yaitu bahwa saya adalah komponen yang sangat menentukan di ruang kelas. Cara pendekatan saya dan suasana hati saya adalah gambaran iklim di kelas. Saya mempunyai kekutan luar biasa untuk membuat kehidupan seorang murid kacau balau atau bahagia. Saya bisa menjadi instrumen yang menyiksa atau memberi inspirasi pada murid. Menghina atau memberi dukungan, menyakiti atau menyembuhkan. Dalam segala situasi respon saya di kelas adalah hal yang menentukan apakah sebuah krisis dapat diperburuk atau diselesaikan, seorang murid dimanusiakan atau tidak dimanusiakan."
Intinya, seorang guru harus hebat. Untuk menjadi guru hebat, Hamy mengungkapkan ada 4 hal yang menjadi kuncinya: Satu, Penguasan guru terhadap bidang studi yang diajarkan, kedua, keterampilan guru dalam mengajar bidang studi, ketiga, keterampilan anak untuk belajar dengan efektif, dan keempat, motivasi anak untuk belajar dengan efektif.
Dalam kesempatan itu juga, Masruri yang kini menjabat Direktur KPI mengulai mutu sekolah lebih kepada Sistem dan manajemen yang dibangun oleh sekolah yang bersangkutan. Sistem dan manjemen sekolah seperti apa yang dikembangkan oleh sekolah. "Jika sistem dan manajemen baik, Insya Allah mutu sekolah tersebut baik." ungkap salahsatu inspirator sekolah AlHikmah Surabaya ini.




Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.