“Sejuta batu nisan
guru tua yang terlupakan oleh sejarah
Terbaca torehan darah kering:
Di sini berbaring seorang guru
semampu membaca buku usang
sambil belajar menahan lapar
Hidup sebulan dengan gaji sehari
Itulah nisan tua sejuta
guru tua yang terlupakan oleh sejarah,”
Puisi di atas mengingatkan kita akan perjuangan dan kepedihan guru, masih adakah guru yang pedih menjalani hidup yang pas-pasan? Bisa jadi masih ada....
November ini kita teringat dengan peringatan hari guru. Wikipedia mendefinisikan bahwa Hari Guru adalah hari untuk menunjukkan penghargaan terhadap guru, dan diperingati pada tanggal yang berbeda-beda bergantung pada negaranya. Di beberapa negara, hari guru merupakan hari libur sekolah.Hari Guru Nasional diperingati bersama hari ulang tahun PGRI (Persatuan Guru Republik Indonesia). Hari Guru Nasional bukan hari libur resmi, dan dirayakan dalam bentuk upacara peringatan di sekolah-sekolah dan pemberian tanda jasa bagi guru, kepala sekolah, dan pengawas sekolah.
Terkait dengan peringatan hari guru, mungkin kita bisa mengevaluasi secara komprehensive guru di Indonesia, secara kuantitatif dan kualitatif. Kini, terutama di DKI Jakarta, puisi pembuka di atas sudah tidak relevan lagi. Gaji guru ditambah tunjangannya membuat guru bisa bernyayi. Lihat saja beberapa bait yang ditulis oleh seorang guru berikut:
guru-guru kini sudah bisa belagu
menepis segala ambigu
tiada bisa menandingi aku
sebab gajianku berlipat beribu
guru sekarang sudah bisa terbang
semua keperluan dapat tunjangan
setiap bulan inklud di uang gajian
aku pun sudah bisa terbang
siapa yang menghina kami
ku injak kepala sampai kaki
bandingkan berapa situ bergaji
tahukah kami sudah bisa bernyanyi
taralala trilili………………..
Rupanya, kegembiraan guru akan meningkatnya kesejahteraan belum diimbangi meningkatnya kualitas. Lihat saja masih banyak guru yang mengajar hanya meminta murid mencatat dari papan tulis. Atau sekedar menghabiskan jam pelajaran dengan maksud yang penting belajar.
Wah...bahaya sekali kalau seperti ini. Bagaimana outputnya nanti??
Senin, November 17, 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)




Wah, guru sebaiknya tidak berorientasi pada gaji semata. Ingat tugas guru akan dipertanggungjawabakan di hadapan Allah kelak...
BalasHapusGuru terkadang belum bisa jadi yang digugu dan ditiru. Keteladanan di luar kelas sangat jauh panggang dari api. Sepertinya diperlukan figur guru yang bisa selamanya jadi 'guru'. Ia guru di sekolah, di rumah dan di masyarakat.
BalasHapus